SF Consulting     5 Nov 2026

PMI Manufaktur Indonesia Naik Ke 54,0 Pada Oktober 2026, Tertinggi Sejak Maret 2024

(Jakarta) Aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan penguatan pada Oktober 2026. Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia meningkat menjadi 54,0 dari 52,4 pada September 2026, sekaligus menjadi level tertinggi sejak Maret 2024. Penguatan ini didorong oleh pertumbuhan permintaan baru yang tercepat sejak Oktober 2021 serta peningkatan permintaan ekspor. Kondisi tersebut turut mendorong akselerasi produksi dan pembelian bahan baku, sehingga memperkuat prospek industri pada triwulan IV 2026.
 
Plt. Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Hidayat Amir menjelaskan, ekspansi manufaktur memperkuat optimisme terhadap kinerja perekonomian nasional di tengah ketidakpastian global. Pemerintah terus menjaga kesinambungan permintaan domestik, meningkatkan daya saing industri, serta menciptakan iklim investasi yang kondusif. Tren positif tersebut juga didukung ekspansi manufaktur di sejumlah mitra dagang, seperti Thailand dengan PMI 54,8, India dan Taiwan masing-masing 54,9, serta Amerika Serikat 56,0 dan Jerman 54,2.
 
Dari sisi eksternal, neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 mencatat surplus US$ 3,36 miliar. Nilai ekspor mencapai US$ 27,59 miliar atau tumbuh 11,87 % secara tahunan (year on year/yoy), terutama ditopang ekspor nonmigas yang meningkat 12,39 % menjadi US$ 26,64 miliar. Sementara itu, impor tumbuh 18,41 % menjadi US$ 24,24 miliar, terutama akibat peningkatan kebutuhan bahan baku penolong. Secara kumulatif, neraca perdagangan Januari-September 2026 masih mencatat surplus US$ 10,61 miliar. Adapun inflasi Oktober 2026 terkendali di level 3,23 % (yoy), melandai dari 3,28 % pada bulan sebelumnya, meskipun inflasi pangan bergejolak meningkat menjadi 5,81 % akibat gangguan cuaca dan dampak El Nino.
 
Aktivitas ekonomi domestik juga menunjukkan tren positif. Indeks Penjualan Riil tumbuh 1,4 % (yoy), meningkat dari 1,3 % pada bulan sebelumnya, sedangkan Indeks Keyakinan Konsumen berada di level optimistis 118,1. Dari sisi dunia usaha, penjualan mobil dan sepeda motor masing-masing tumbuh 28,1 % dan 15,4 % secara tahunan, sementara penjualan semen domestik meningkat 3,5 %. Konsumsi listrik juga mencatat pertumbuhan 10,7 % (yoy), mencerminkan terjaganya aktivitas ekonomi di sektor rumah tangga, bisnis, dan industri.
 
Hidayat menegaskan, pemerintah akan terus memperkuat kebijakan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan produktivitas industri, daya saing ekspor, dan investasi. Menurutnya, ekspansi manufaktur, surplus perdagangan, serta inflasi yang terkendali mencerminkan ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global. Pemerintah juga akan menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat melalui penguatan pasokan serta kelancaran distribusi pangan, sekaligus mendorong peningkatan nilai tambah industri agar pertumbuhan ekonomi semakin berkualitas dan mampu menciptakan lapangan kerja lebih luas. (Rp)
 
Konsultan pajak
https://bit.ly/sfcnews

#sfconsulting #sfgroup #pajakuntukkita #industri #kanwilbeacukai #konsultan #pajak #legal #customs #transferpricing #compliance

Tax News

Search




Exchange Rates

Mata Uang Nilai (Rp.)
EUR 17068.99
USD 15710
GBP 19949.11
AUD 10293.61
SGD 11699.88
* Rupiah

Berlaku : 27 Mar 2024 - 2 Apr 2024