SF Consulting     4 Aug 2026

KSSK Optimistis Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Menarik Bagi Investor

(Jakarta) Pemerintah melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus memperkuat koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan guna menjaga stabilitas pasar keuangan serta mempertahankan kepercayaan investor di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global. Sinergi antarlembaga dinilai menjadi kunci untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus memastikan arus modal tetap mengalir ke pasar domestik.
 
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan, hasil asesmen KSSK menunjukkan kondisi fiskal, moneter, dan sektor keuangan pada triwulan II-2026 tetap terjaga meski tekanan eksternal meningkat akibat eskalasi konflik geopolitik. Menurutnya, stabilitas tersebut didukung oleh koordinasi dan sinergi kebijakan yang kuat antara pemerintah, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
 
Purbaya menjelaskan, pemerintah bersama BI, OJK, dan LPS terus memantau perkembangan ekonomi global yang berpotensi memengaruhi arus modal dan stabilitas pasar keuangan domestik. Sejumlah faktor yang menjadi perhatian antara lain meningkatnya konflik geopolitik, kenaikan harga energi, volatilitas pasar keuangan global, serta perubahan ekspektasi kebijakan moneter di negara-negara maju. Kendati demikian, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat masih mampu menjaga daya tarik investasi.
 
Ia menegaskan bahwa risiko eksternal terhadap stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan harus terus diantisipasi agar momentum pertumbuhan ekonomi tetap terjaga. Menurut Purbaya, kewaspadaan terhadap berbagai dinamika global diperlukan untuk memastikan ketahanan ekonomi nasional tetap kuat di tengah ketidakpastian yang masih berlangsung. “Risiko eksternal terhadap stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan perlu terus diwaspadai untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” ungkap Menkeu Purbaya yang dikutip pada Senin (03/08).
 
Di sisi lain, kepercayaan investor tercermin dari arus modal asing yang masih masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN). Sepanjang triwulan II-2026, investor nonresiden mencatat pembelian bersih (net buy) SBN sebesar Rp32,09 triliun, sementara secara kumulatif sejak awal tahun mencapai Rp6,99 triliun. Meski demikian, tekanan global turut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) SBN tenor 10 tahun sebesar 31 basis poin menjadi 7,14 persen pada akhir triwulan II-2026, seiring meningkatnya risiko geopolitik, kenaikan harga minyak dunia, dan kekhawatiran terhadap inflasi global. (Rp)

Konsultan pajak 
https://bit.ly/sfcnews
#sfconsulting #sfgroup #pajakuntukkita #kssk #kanwilbeacukai #konsultan #pajak #legal #customs #transferpricing #compliance


Tax News

Search




Exchange Rates

Mata Uang Nilai (Rp.)
EUR 17068.99
USD 15710
GBP 19949.11
AUD 10293.61
SGD 11699.88
* Rupiah

Berlaku : 27 Mar 2024 - 2 Apr 2024