SF Consulting     3 Aug 2026

Sinergi Kebijakan Jadi Kunci Jaga Stabilitas Ekonomi Di Tengah Ketidakpastian Global

(Badung) Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan pentingnya koordinasi kebijakan fiskal, moneter, makroprudensial, dan sektor keuangan untuk menjaga stabilitas sekaligus mempertahankan pertumbuhan ekonomi di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Dalam “The 20th Bulletin of Monetary Economics and Banking (BMEB) International Conference” di Bali, Juda menjelaskan kebijakan moneter menjadi lini pertahanan pertama dalam menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, serta memulihkan kepercayaan pasar.
 
Namun, penyesuaian suku bunga yang dilakukan untuk menjaga stabilitas berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi sehingga perlu diimbangi dengan kebijakan fiskal yang mendukung pertumbuhan dan menjaga daya beli masyarakat, serta kebijakan makroprudensial yang memastikan likuiditas dan penyaluran kredit tetap berjalan. “Ini adalah koordinasi kebijakan yang perlu kita gunakan sebagai kerangka kerja dalam situasi saat ini,” ungkap Wamenkeu Juda yang dikutip pada Minggu (02/08).
 
Di bidang fiskal, pemerintah terus menjalankan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas ekonomi, antara lain melalui stabilisasi harga energi dan pangan, pelaksanaan program prioritas nasional, peningkatan efisiensi belanja negara, serta menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap di bawah 3 % terhadap produk domestik bruto (PDB). Pemerintah juga mempertahankan subsidi energi guna menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam kisaran sasaran. Menurut Juda, kebijakan fiskal saat ini diarahkan untuk menyeimbangkan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi dengan menjaga keberlanjutan fiskal.
 
Wamenkeu juga menekankan pentingnya koordinasi antarlembaga melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang melibatkan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Forum tersebut berperan dalam melakukan asesmen risiko, menyusun respons kebijakan secara terpadu, serta menjaga stabilitas sistem keuangan di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompleks.
 
Menurut Juda, koordinasi kebijakan yang kuat telah memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia. Pada triwulan I 2026, ekonomi nasional mampu tumbuh 5,61 %, inflasi tetap terjaga dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5 ± 1 %, defisit fiskal semester I 2026 tercatat 0,76 % terhadap PDB, cadangan devisa mencapai US$ 145,6 miliar, dan pertumbuhan kredit tetap solid sebesar 12,67 %. “Ini merupakan contoh bagaimana kebijakan moneter, fiskal, dan sektor keuangan dapat saling berkoordinasi dalam mengelola perekonomian di tengah tantangan ekonomi global, khususnya dalam menjaga stabilitas,” pungkas Juda. (Rp)

Konsultan pajak 
https://bit.ly/sfcnews
#sfconsulting #sfgroup #pajakuntukkita #fiskal #kanwilbeacukai #konsultan #pajak #legal #customs #transferpricing #compliance


Tax News

Search




Exchange Rates

Mata Uang Nilai (Rp.)
EUR 17068.99
USD 15710
GBP 19949.11
AUD 10293.61
SGD 11699.88
* Rupiah

Berlaku : 27 Mar 2024 - 2 Apr 2024